Mata Kuliah : Penyehatan
Makanan dan Minuman-A
Dosen : Khiki Purnawati Kasim, SST. M. Kes
LAPORAN PENGAMBILAN CONTOH USAP ALAT MAKAN
Disusun Oleh :
Nama : Fitriani Hamza
NIM : PO714221151057
Tingkat : II.B/D-IV
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM D-IV
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur
kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya lah
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan judul “ laporan pengambilan contoh usap alat makan “, laporan ini merupakan salah satu tugas yang diberikan pada mata
kuliah Penyehatan Makanan dan Minuman-A
Pada kesempatan
ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak
membantu dalam menyelesaikan tugas ini, terutama dosen pembimbing pada mata
kuliah ini yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan yang sangat membantu
kami dalam mengerjakan tugas yang telah diberikan.
Kami sadar bahwa
dalam laporan ini masih sangat jauh dari kebenaran maka dari itu, kami
mengharapkan saran/kritik yang bersifat membangun agar kedepannya akan lebih
baik lagi, demikian laporan ini semoga dapat bermanfaat bagi semua yang
membacanya.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb
BAB I
PENDAHULUAN
A.
DASAR TEORI
Salah satu
sumber penularan penyakit dan penyebab terjadinya keracunan makanan adalah makanan dan minuman
yang tidak memenuhi syarat
higiene. Keadaan higiene makanan dan minuman antara lain dipengaruhi oleh higiene alat masak dan alat makan yang dipergunakan dalam proses penyediaan makanan dan minuman. Alat
masak dan alat makan ini perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan mikrobiologi usap alat makan meliputi pemeriksaan angka kuman.
Upaya pengamanan makanan dan minuman pada dasarnya
meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan,
peralatan pengolahan makan dan proses pengolahannya. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya keracunan makanan, antara lain adalah higiene
perorangan yang buruk, cara penanganan makanan yang tidak sehat dan
perlengkapan pengolahan makanan yang tidak bersih (Chandra, 2006).
Peranan peralatan makanan dalam pedagang makanan
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prinsip-prinsip penyehatan makanan (Food
hygiene). Setiap peralatan makan (piring, gelas, sendok) harus selalu
dijaga kebersihannya setiap saat digunakan. Alat makan (piring, gelas, sendok)
yang kelihatan bersih belum merupakan jaminan telah memenuhi persyaratan
kesehatan, karena didalam
alat makan (piring, gelas, sendok) tersebut tercemar bakteri E.coli yang
menyebabkan alat makan (piring, gelas, sendok) tersebut tidak memenuhi
kesehatan. Untuk itu pencucian peralatan sangat penting diketahui secara
mendasar, dengan pencucian secara baik akan menghasilkan peralatan yang bersih
dan sehat pula. Dengan menjaga kebersihan peralatan makan (piring, gelas,
sendok), berarti telah membantu mencegah pencemaran atau kontaminasi makanan
yang dikonsumsi (Djajadinigrat, 1989 dalam Pohan, 2009).
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengusap alat
makan yang baik dan benar.
2. Untuk mengetahui cara pemeriksaan
kuman pada alat
makan .
3. Untuk mengetahui jumlah Angka
Lempeng Total (ALT).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Peralatan Makanan
Perlindungan peralatan makan dimulai dari keadaan bahan. Bahan yang baik adalah
bila tidak larut dalam makanan, mudah dicuci dan aman digunakan. Peralatan
utuh, aman dan kuat, peralatan
yang sudah retak, atau pecah selain dapat menimbulkan kecelakaan (melukai
tangan) juga menjadi sumber pengumpulan kotoran karena tidak akan dapat tercuci
sempurna. Demikian pula bila berukir hiasan, hiasan merk atau cat pada
permukaan tempat makanan tidak boleh digunakan. Adapun persyaratan peralatan
makanan (Pohan, 2009), yaitu:
1. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan
tidak boleh mengeluarkan zat beracun yang melebihi ambang batas sehingga
membahayakan kesehatan.
2. Peralatan tidak rusak, retak dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap
makanan.
3. Permukaan yang kontak langsung dengan makanan
harus tidak ada sudut mati, rata halus dan mudah dibersihkan.
4. Peralatan harus dalan keadaan bersih sebelum
digunakan.
5. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan
yang siap disajikan tidak boleh mengandung angka kuman yang melebihi ambang
batas, dan tidak boleh mengandung E.coli.
6. Cara pencucian peralatan harus memenuhi ketentuan
:
a. Pencucian peralatan harus menggunakan sabun atau
deterjen air dingin, air panas, sampai bersih.
b. Dibebas hamakan sedikitnya dengan larutan kaporit
50 ppm, air panas 800o C selama 2
menit.
7. Peralatan yang sudah didesinfeksi harus
ditiriskan pada rak-rak anti karat sampai kering sendiri dengan bantuan sinar
matahari atau buatan dan tidak boleh
dilap dengan kain.
8. Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus
disimpan dalam keadaan kering dan bersih, ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung
dari sumber pengotoran / kontaminasi
dan binatang perusak.
Menurut Depkes 2004, Peralatan makan yang kita
gunakan harus bersih, agar kita terhindar dari kemungkinan penularan penyakit.
oleh karena itu perlu dilakukan uji sanitasi alat makan. Cara sederhana untuk
memastikan alat makan kita bersih atau tidak, bisa dilakukan dengan uji
kebersihan alat sebagai berikut. Menguji kebersihan secara fisik dapat
dilakukan dengan cara:
1. Menaburkan tepung pada piring yang sudah dicuci
dalam keadaan kering. Bila tepungnya lengket pertanda pencucian belum bersih.
2. Menaburkan garam pada piring yang kering,
pertanda pencucian belum bersih.
3. Penetesan air pada piring yang kering. Bila air
jatuh pada piring ternyata menumpuk/atau tidak pecah pertanda pencucian belum
bersih.
4. Penetesan dengan alkohol, jika terjadi endapan
pertanda pencucian belum bersih.
5. Penciuman aroma, bila tercium bau amis pertanda
pencucian belum bersih.
6. Penyiraman. Bila peralatan kelihatannya kusam/tidak
cemerlang berarti pencucian belum bersih.
Berdasarkan Permenkes RI No.1096/Menkes/SK/VI/2011 tentang
hygiene sanitasi jasa boga, persyaratan
tempat pencucian peralatan dan bahan makanan sebagai berikut :
1. Tersedia tempat pencucian peralatan, jika memungkinkan terpisah dari tempat pencucian bahan pangan.
2. Pencucian peralatan harus menggunakan bahan
pembersih/deterjen.
3. Pencucian bahan makanan yang tidak
dimasak atau dimakan mentah harus dicuci dengan menggunakan larutan Kalium Permanganat(KMnO4)dengan konsentrasi 0,02% selama 2 menit atau larutan kaporit dengan konsentrasi 70% selama 2 menit atau dicelupkan ke dalam air mendidih (suhu 80° C -100° C) selama 1 – 5 detik.
4. Peralatan dan bahan makanan yang telah
dibersihkan disimpan dalam tempat yang terlindung dari pencemaran serangga,
tikus dan hewan lainnya.
Peralatan
yang digunakan sebaiknya harus dicuci sampai bersih dengan menggunakan air
panas dan sabun (detergen), yang dibantu dengan menggunakan sikat halus dan
atau setelah pencucian harus dilakukan pembilasan dengan air secukupnya.
Setelah itu disemprot atau dilap dengan menggunakan larutan sanitaiser. Setelah
dilap atau disemprot dengan larutan tersebut jangan dibilas lagi, langsung saja
keringkan sampai kering.
Jika
tidak digunakan larutan sanitaiser dapat dilakukan pembilasan dengan
menggunakan air panas (mendidih). Peralatan-peralatan yang kecil seperti
sendok, garpu, pengaduk, dan lain-lain yang susah dibersihkan hendaknya
direndam dalam larutan detergen panas beberapa waktu sebelum dibersihkan dengan
menggunakan larutan sanitaiser. Sanitaiser adalah senyawa kimia yang dapat
mengurangi jumlah bakteri dan mikroba lainnya. Sanitaiser yang dapat digunakan
bermacam-macam diantaranya 100-200 ppm klorin/atau senyawa kuat seperti
ammonium/watener. Biasanya dilakukan dengan cara melarutkan sanitaiser sekitar
3,8 – 7,6 ml kedalam 25 liter air panas (77˚C). Disamping itu air yang
digunakan untuk proses pencucian peralatan hendaknya air yang bersih yang
memenuhi persyaratan sanitasi, sehingga mencegah kemungkinan kontaminasi.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Metode
praktikum
Metode praktikum yaitu
metode swab dilakukan dengan cara di usap dengan menggunakan
lidi kapas steril.
B. Prinsip
Praktikum
Prinsip utama dalam praktikum usap
peralatan makan yaitu sterilisasi, semua alat dan bahan yang digunakan harus
dalam keadaan steril. Adapun sterilisasi yang dilakukan dalam praktikum ini
yaitu antara lain:
1. Tangan
dan lingkungan kerja tempat praktikum harus dalam keadaan steril.
2. Alat dan
bahan harus dalam keadaan steril.
3. Tabung
reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel
4. Pipet
ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan.
5. Menghindari
bercakap saat melakukan praktikum berlangsung.
C. Waktu
Praktikum
1. Sterilisasi
Alat
a. Hari/Tanggal
: Jumat, 21 April 2017
b. Jam
Mulai-akhir
: Pukul. 09:00-11:00 WITA
2. Praktikum
Usap Alat Makan
a. Hari/Tanggal
: Selasa, 25 April 2017
b. Jam Mulai-akhir
: Pukul. 09:00-10:35 WITA
3. Pemeriksaan
Angka Lempeng Total (ALT)
a. Hari/Tanggal
: Rabu, 26
April 2017
b. Jam Mulai-akhir
: Pukul. 09:00-12:00 WITA
4. Pembacaan
Hasil dan Perhitungan Jumlah Angka Kuman
a. Hari/Tanggal
: Rabu, 26 April 2017
b. Jam
Mulai-akhir
: Pukul. 09:00-12:00 WITA
D. Tempat
1. Praktikum
Usap Alat Makan
Lokasi praktikum usap alat makan ini
berada di Asrama Putri Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar
2. Praktikum
Pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) / angka kuman
Proses pemeriksaan Angka Lempeng Total
(ALT) / angka kuman ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Kampus
Poltekkes Kemenkes Makassar Jurusan Kesehatan Lingkungan.
E. Prosedur
Pelaksanaan
1. Tahap Persiapan Alat dan bahan
a. Alat
1. Pipet Steril 10 ml
2 buah
masing – masing pemeriksaan
2. Petridish
steril
5 buah masing – masing pemeriksaan
3. Lidi Kapas steril
2 buah masing – masing pemeriksaan
4. Luas Jendela
ukuran 5 x 5 cm = 25 cm 2
5. Erlenmeyer
6. Pengaduk
7. Lampu spritus
8. Korek api
9. Tabung reaksi
10. Rak tabung
11. Kompor gas
12. Spidol
13. Termos
14. Gunting
15. Autoclave
16. Inkubator
17. Oven
18. Bulp
b. Bahan
1. Air pepton
2. Larutan pengencer NaCl 0,85%
3. Medium Nutrien Agar
4. Alkohol
5. Kapas
6. Kertas Label
2. Tahap Pelaksanaan
a. Sterilisasi Alat
1. Persiapkan alat yang akan di
sterilisasi, seperti pipet 10 ml, petridish, dan lidi kapas.
2. Bungkus alat tersebut dengan kertas
kopi dan kertas koran
3. Masukkan alat yang telah dibungkus
tadi, ke dalam oven dengan suhu 105 ˚C dalam waktu 2 jam.
b. Praktikum
Usap Alat Makan
1. Persiapkan sarung tangan yang steril
atau bisa dengan membasahi tangan dengan menggunakan alkohol agar tangan
menjadi steril.
2. Alat makan yang akan diperiksa
masing – masing diambil 4 buah tiap jenis yang diambil secara acak dari tempat
penyimpanan.
3. Persiapkan catatan formulir
pemeriksaan dengan membagi alat makan dalam kelompok – kelompok
4. Persiapkan lidi kapas steril,
kemudian buka kapas penutup tabung reaksi yang berisi air pepton.
5. Plumbir bagian ujung dari tabung
reaksi tersebut, kemudian masukkan lidi kapas steril ke dalamnya.
6. Lidi kapas steril dalam tabung
reaksi ditekan ke dinding tabung untuk membuang /memeras airnya, lalu angkat
dan diusapkan pada setiap alat – alat makan yang diusapkan sampai selesai.
7. Permukaan tempat alat makan yang
diusap, yaitu:
a. Piring
: permukaan dalam tempat makanan diletakkan
b. Sendok
: permukaan bagian luar dan dalam seluruh sendok
8. Cara melakukan usapan :
a. Pada sendok dengan usapan seluruh
permukaan luar dan dalam.
b. Pada piring dengan 2 usapan pada
permukaan tempat makanan dengan menyilang siku – siku antara usapan yang satu
dengan garis usapan kedua dan menggunakan luas jendela untuk mewakili dari luas
seluruh permukaan piring.
9. Setiap bidang permukaan yang diusap
dilakukan 3 kali berturut – turut dan satu lidi kapas digunakan untuk satu
kelompok alat makan yang diperiksa.
10. Setiap hasil mengusap 1 alat makan
dari satu kelompok selalu dimasukkan ke dalam botol cairan di putar – putar dan
ditekan ke dinding, demikian dilakukan berulang – ulang sampai semua kelompok
diambil usapannya.
11. Pada usapan peralatan makan, setiap
usapan alat harus mencapai luas sekitar 8 inchi persegi atau 50 cm 2
dan dilakukan 5 kali (tempat) sehingga cukup mencapai luas 40 inchi atau 256 cm2
12. Setiap satu kelompok menggunakan 1
lidi kapas sebab yang diusapkan dengan cara seperti no.11 di atas.
13. Setelah kelompok alat makan atau luas permukaan peralatan masak diusap,
lidi kapas dimasukkan ke dalam botol, lidinya dipatahkan atau digunting, dan
bibir tabung dipanaskan dengan api spritus, lalu ditutup kembali dengan kapas
penutupnya.
14. Tempelkan kertas label yang telah
dipersiapkan, tulis nama jenis alat makan yang telah diusap. Untuk nama
pengambil, tempat pengambilan, dan tujuan pengambilan sampel ditulis dibuku
catatan yang telah disiapkan oleh pengambil.
15. Kirimkan segera ke laboratorium
dengan suhu dingin untk diperiksa. Bila tidak dapat dikirim segera, disimpan
dalam tempat penyimpanan dingin.
c. Pemeriksaan Angka Lempeng Total
1. Siapkan larutan pengencer NaCl 0,85%
sebanyak masing – masing 2 tabung dan 2 buah petridish yang diberi kode
101 dan 102 dan kontrol.
Catatan :
Pengenceran yang digunakan adalah pengenceran 101 dan 10 2 sehingga
yang digunakan yaitu:
2 tabung
dan 2 petridish untuk piring
2 tabung
dan 2 petridish untuk sendok
2. Ambil 1 ml larutan pengencer NaCl
dengan pipet steril pada tabung kode kontrol dan masukkan ke dalam petridish yang
juga berkode kontrol.
3. Ambil 1 ml sampel dengan pipet
steril pada tabung yang berkode 101(untuk satu jenis alat makan)
dengan pipet lepas sebanyak ±25 kali dan tidak boleh ditiup.
4. Pipet 2 ml dari tabung tadi (yang
berkode 101) dan masukkan ke dalam petridish yang berkode 101
(untuk satu jenis alat makan) dan 1 ml sisanya ke tabung 102
lalu pipet lepas sebanyak ±25 kali
5. Pipet 1 ml dari tabung 102 masukkan
ke petridish yang sudah diberi kode 102.
6. Tuangi petridish yang berisi sampel
dengan nutrien agar 55˚C – 56˚C sebanyak ±15 ml
7. Digoyang-goyang agar rata dan
biarkan beku
8. Balik petridish dan masukkan ke
dalam inkubator untuk dieramkan dengan suhu 37˚C selama 1 x 24 jam
d. Pembacaan
Hasil danPerhitungan ALT / Angka Kuman
1. Keluarkan petridish yang berisi
sampel yang telah dieramkan selama 1 x 24 jam
2. Hitung jumlah kuman yang berbentuk
bulatan pada sampel, kemudian masukkan ke dalam rumus yang telah ditentukan
3. Adapun perhitungan jumlah kuman yang
terbaca, yaitu:
Perhitungan dilakukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Rumus ALT = 
a. Piring
·
Untuk
pengenceran pertama (101)= 55 kuman
·
Untuk
pengenceran kedua (102) = 11 kuman
·
Untuk
kontrol = 9 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
Rumus ALT =
= 
= 
= 
= 
=
= 13,2 = 14
Catatan : luas jendela yang
digunakan = 5 x 5 = 25 cm2.
b. Sendok
Untuk pengenceran pertama (101)
= 69 kuman
·
Untuk
pengenceran kedua (102) = 36 kuman
·
Untuk
kontrol = 9 koloni/cm2
Maka perhitungannya sebagai berikut :
Rumus ALT=
= 
= 
= 
= 
=
1600
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan dilaboratorium Mikrobiologi, maka didapat angka
kuman pada alat makan sebagai berikut :
Tabel.I : AngkaLempeng Total padaAlatMakan yang Diperiksa
No
|
Jenis Alat Makan
|
Jumlah ALT
(kolono/cm2)
|
|
1.
|
Piring
|
14
|
|
2.
|
Sendok
|
1650
|
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil
praktikum tentang pemeriksaan jumlah kuman yang
dilakukan disalah satu Asrama Putri Jurusan Kesehatan Lingkungan
Poltekkes Kemenkes Makassar ada beberapa peralatan makan yang tidak memenuhi persyaratan untuk digunakan karena memeliki nilai ambang
batas yang ditolerir.
Tingginya
kuman pada peralatan makan di Asrama
Putri Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar, tidak terlepas oleh beberapa factor
penyebab antara lain, yaitu: Rak tempat penyimpanannya berada dekat dengan
tempat terbuka dan penggunaan Detergen yang berulang kali.
Rak yang kurang hygiene tempat menyimpan peralatan makan sangat memungkinkan melekatnya mikroba,
karena rak dekat dengan tempat terbuka sehinggah banyak mikroba lain
yang hinggap pada rak penyimpanan peralatan makan. Selain rak penyimpanan
peralatan makan juga dipengaruhi oleh penggunaan detergen / sabun yang berulang
kali sampai warnanya menjadi keruh kehitaman. Penggunaan sabun / detergen yang
berulang kali memungkinkan kotoran dari peralatan makan satu berpindah
keperlatan lain . Untuk mencegah terjadinya kontaminasi sebaiknya sabun /
detergen selalu diganti dan tidak boleh digunakan berulang kali. Serta penggunaan
air bilasan yang dilakukan secara berulang pada air yang sama.
Dan hasil perhitungan untuk kontrol didapatkan 9 koloni/cm2. Padahal
seharusnya pada media kontrol ini tidak boleh terdapat angka kuman, karena pada
media ini hanya terdapat pengencer steril yang tidak diberikan sampel. Hal ini
menandakan bahwa kondisi awal lingkungan mengandung mikroba sebanyak 9
koloni/cm2 permukaan. Meskipun pada dasarnya, hasil pemeriksaan
untuk kontrol idealnya 0 (nol) koloni/cm2, akan tetapi nilai ini
terjadi karena beberapa factor penyebab misalnya karena ada kontaminasi dari lingkungan
kerja tempat pemeriksaan yang kurang hygienis, termasuk alat yang digunakan
pada saat praktikum. Dengan catatan bahwa nilai dari kontrol harus lebih kecil
dari nilai pada pemeriksaan media biakan mikroba.
Pada praktikum ini, dilakukan pengenceran sampai 2 kali yaitu pengen-ceran 10-1 sampai
10-2, yaitu suatu sampel dari suatu suspensi yang
berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan
dari suatu tabung ke tabung lain sampai
pada pengenceran kedua. Dengan
tujuan untuk menurunkan jumlah bakteri sehingga pada pengenceran terakhir akan
didapatkan jumlah koloni yang lebih sedikit dan mudah diketahui jumlahnya (Sudarsono, 2008).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan (piring, sendok, garpu, dan gelas) tidak boleh mengandung bakteri lebih dari
0 koloni/cm2. Maka dapat dilihat
bahwa sampel alat makan (piring, sendok, garpu, gelas,danmangkok) yang diperiksa jumlah kumannya dapat dikatakan tidak sehat dan tidak
layak untuk digunakan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pada peralatan makan Piring 14 coloni/cm2, dan Sendok terdapat 1650 coloni/cm2. Menurut Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No.
1096/MENKES/PER/VI/2011 bahwa alat makan tidak mengandung bakteri lebih dari 0
koloni/cm2. Hal ini
berarti peralatan makan yang berada di Asrama Putri Jurusan Kesehatan
Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar tidak layak untuk digunakan.
B. Saran
Adapun saran pada praktikum ini
adalah sebagai berikut :
1. Sebaiknya ketika mencuci piring
lakukan dengan 4x bilasan dengan air yang berbeda, dan sebelum
alat makan ditiriskan sebaiknya dilap terlebih dahulu.
2. Setelah
selesai melakukan pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) sebaiknya memberikan
informasi kepada masyarakat agar memperhatikan kebersihan alat makan yang
digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
http://anhiandriani28.blogspot.com/2013/04/laporan-praktikum-pemeriksaan-alat-makan.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://arlindasugiarta.blogspot.com/2012/12/laporan-mikrobiologi-usap-alat-makan.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://dicerahkan.blogspot.com/2010/12/laporan-usap-alat-makanan.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://millo-tongkosong.blogspot.com/2010/03/laporan-praktek-pmm.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://sarmilahkesling.blogspot.com/2014/12/usap-alat-makan-poltekkes-kesling-mks.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://endahsss.blogspot.com/2011/06/laporan-praktikum-mikrobiologi.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/08/angka-kuman-peralatan-makanan.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
http://city-selatiga.blogspot.com/2012/06/usap-alat.html(diakses
pada 1 Mei 2015)
